Liburan akhir tahun 2007 kami habiskan di Malaysia. Isteri dan anak-anak sudah pulang duluan ke Jakarta mulai tanggal 15 desember, kemudian tanggal 26 Desember janjian untuk bertemu di Kuala Lumpur International Airport (KLIA).

Berita tentang RELA dan perlakuan terhadap orang Indonesia di sana kami kesampingkan dulu. Kami ingin membuktikan apa yang sebenarnya terjadi di sana. Walaupun sebenarnya ada kekhawatiran dengan keluarga yang bepergian sendiri dari Jakarta ke Kuala Lumpur. Sebelumnya saya call isteri untuk memastikan bahwa dia telah siap dengan kondisi terburuk. Kita janjian untuk bertemu di Burger King dekat pintu keluar di KLIA.

Alhamdulillah semuanya berjalan lancar, kami bertemu di KLIA tanpa hambatan apapun. Mulai dari imigrasi hingga ke custom semuanya lancar, pelayanan sangat memuaskan. Kemudian saya ambil taxi untuk keluarga dari KLIA hingga ke Crowne Plaza Mutiara di Jl. Sultan Ismail, biaya taxi sebesar RM 180 (sekitar Rp 500 ribu). Untuk jarak tempuh sekitar 70 km biaya relatif murah. Perjalanan sekitar 40 menit dari KLIA ke hotel.

Kami tinggal sehari di KL, jalan-jalan sekitar KLCC dan Bukit Bintang. Tidak ada masalah, semuanya lancar. Esok lusanya kami pergi ke Pulau Penang (mereka sebut juga Pinang). Perjalanan dari KL ke Penang cukup lancar, kami menyewa mobil dari Hertz (ada corporate rate) dan dapat Proton Waja. Proton Waja cukup lumayan, pakai transmisi automatik (nggak ada tombol overdrive on/off, atau saya nggak bisa menemukannya?) dan pedal gas agak reponsif.

Yang agak bingung waktu mau keluar dari KL menuju ke highway/tol (mereka sebut juga lebuh raya). Saya minta isteri untuk menjadi navigator. Untuk keluar KL menuju ke Penang, saya cari tulisan IPOH. Ipoh adalah Ibu Kota negara bagian Perak, yang terletak antara Selangor dan Penang (atau Kedah). Jarak antara KL dan Pulau Penang sekitar 350 km, dan kami tempuh dalam waktu sekitar 4-5 jam.

Selanjutnya bisa dibaca di http://sbaskoro.wordpress.com/2008/01/11/berlibur-ke-malaysia-everything-is-ok/